Powered By Blogger

Rabu, 02 Februari 2011

Uang, Inflasi dan Kebijakan Pemerintah di Bidang Keuangan

A. UANG

Uang memiliki peranan penting dalam menentukan kegiatan ekonomi masyarakat suatu negara. Sudah sejak lama para ahli ekonomi sepakat bahwa uang bisa berakibat baik bagi perekonomian, tetapi uang kadang-kadang juga bisa berakibat buruk bagi perekonomian, dan para ahli ekonom juga sepakat bahwa uang yang tersedia dalam perekonomian sangat besar pengaruhnya dalam menentukan kesetabilan dan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Uang adalah benda yang disetujui oleh masyarakat umum sebagai alat perantara tukar menukar dalam perdagangan.

Fungsi uang dalam perekonomian yaitu ;

1. sebagai alat pertukaran

2. sebagai pengukur nilai

3. sebagai perhitungan dan akuntansi

4. sebagai penyimpan nilai

5. sebagai instrumen term of payment

Motif orang menyimpan uang adalah;

1. motif transaksi

2. motif berjaga-jaga

3. motif spekulasi

Penggunaan uang memungkinkan roda perekonomian berjalan lancar. Hal ini terjadi karena perekonomian menghasilkan produk lebih banyak dan mengurangi waktu yang digunakan oleh para penjual dan pembeli dalam mengatur perekonomian dan transaksi.
Para ekonomi klasik pada masa lalu berpendapat bahwa uang terbuat dari logam, emas, perak dan uang juga dapat pula berupa lembaran - lembaran kertas yang merupakan ;

1. Pernyataan atau perjanjian kesediaan membayar sejumlah emas atau perak atas permintan pada waktu yang ditentukan.

2. Surat sertifikat yang menyatakan uang logam disimpan di bank dan dapat diambil dengan menunjukan sertifikat.

3. Surat sertifikat gudang berarti pemegang surat memiliki barang yang ada di gudang bernilai jumlah uang tertentu.

Teori Irving Fisher dilatar belakangi oleh pandangan para ekonom sebelumnya bahwa semakin banyak jumlah uang yang beredar, harga semakin tinggi harga akan semakin rendah jika jumlah uang semakin sedikit, ketidakmampuan orang-orang mengatasi inflasi disebabkan oleh belum dapat menerjemahkan uang itu sendiri.
Irving Fisher menerjemahkan uang sebagai segala sesuatu yang digunakan sebagai alat transaksi seperti uang logam (emas dan perak) dan semua jenis kertas yang dapat digunakan dalam transaksi. Transaksi yang dimaksud adalah pertukaran barang / jasa dan arus uang, jadi jika arus uang dan barang sesuai harga akan stabil dengan asumsi jumlah uang yang beredar tetap.

Kesimpulan dari Irving Fisher dan Alfred Marshall bahwa semakin sedikit kebiasaan masyarakat memegang uang, akan semakin cepat laju perederan uang dan sebaliknya kesimpulan tersebut sesuai dengan kenayataan saat ini bahwa peredaran uang sangat cepat karena masyarakat saat ini sangat jarang untuk uang yang lama. Hal ini disebabkan oleh masyarakat yang sangat cepat membelanjakan uangnya dengan barang atau jasa. Dengan demikian percepatan tersebut akan semakin meningkatkan produksi barang atau jasa dalam perekonomian yang sesuai dengan jumlah uang yang beredar, kecepatan peredaran uang juga didukung oleh masyarakat yang banyak menyimpan uang di Bank dan mengganti uang untuk transaksi dengan cara mengambil uang secukupnya di ATM atau cukup menunjukan kartu ATM, Kartu Kredit, dan alat transaksi produk perbankan lainnya. Pada umumnya, dinegara berkembang yang mengalami defisit neraca pembayaran, pemerintah akan mengambil kebijakan menambah uang beredar dengan mencetak uang untuk membiayai operasional pemerintahan dan proyek-proyek pemerintah. Pengambilan kebijakan seperti itu dimungkinkan karena uang yang beredar saat ini tidak terlalu di back up dengan jalan emas (tetapi seharusnya di back up dengan sejumlah devisa yang diterima oleh negara tersebut akibat surplus neraca pembayaran).

B. INFLASI

Inflasi adalah kecenderungan naiknya harga umum barang dan jasa secara terus menerus akibat dari tidak ada keseimbangan arus barang dan arus uang. Suatu negara yang mengalami inflasi memiliki ciri - ciri sebagai berikut :

1. harga - harga barang pada umumnya dalam keadaan naik terus menerus

2. jalan uang yang beredar melebihi kebutuhan

3. jalan barang relatif sedikit

4. nilai uang (daya beli uang) turun

Pencegahan inflasi telah lama menjadi salah satu tujuan utama dari kebijaksanaan ekonomi makro pemerintahan dan bank sentral dinegara manapun. Hal ini disebabkan inflasi dianggap sebagai suatu yang tidak diinginkan dan inflasi memberi pengaruh yang tidak baik terhadap distribusi pendapatan (masyarakat berpendapat rendah akan menderita), kegiatan pinjam meminjam (pemberi pinjaman beruntung, peminjam merugi), spekulasi dan persaingan dalam perdagangan internasional. Negara berkembang yang mengalami defisit nerca perdagangan dan menganut APBN defisit, biasanya melakukan penambahan dengan mencetak uang untuk membiayai pengeluaran pemerintah. Pengeluaran pemerintah dengan pencetakan uang uang akan berdampak inflasi apabila pencetakan uang akan berdampak inflasi apabila penctakan uang tanpa diimbangi kenaikan pendapatan nasional (GNP). Kenaikan harga (inflasi) itu tidak terjadi secara mendadak / langsung dirasakan pada tahun pencetakan tahun tersebut, tetapi akan terasa setelah beberapa tahun (di Indonesia dampak inflasi dirasakan setelah 2 - 3 tahun) dari tahun saat terjadi penambahan uang dengan pencetakan uang baru fenomena ini sesuai dengan teori kuantitas Irving Fisher. Jadi dapat dikatakan bahwa teori kuantitas uang ini merupakan fondasi dari teori - teori ekonomi (moneter) saat ini. Fenomena inflasi di Indonesia yang sesuai dengan pandangan keynes adalah inflasi yang terjadi akibat kenaikan gaji pegawai negeri. Jika Pemerintah Indonesia mengumumkan gaji pegawai negeri, pemerintah menambah pengeluaran rutinnya. Kenaikan gaji tersebut biasanya akan diikuti kenaikan harga - harga bahan pokok seperti beras, dan minyak goreng. Kenaikan harga barang - barang lain menyebabkan pengusaha swasta menaikan investasi karena ada keuntungan akibat harga tersebut. Kenaikan harga bahan pokok yang diikuti kenaikan harga barang - barang lainnya menyebabkan tuntutan karyawan dan buruh untuk menaikan upahnya menyesuaikan kenaikan harga bahan pokok dan barang - barang lainnya. Namun kenyataannya, tuntutan karyawan dan buruh seperti ini jarang sekali dapat direkomendasi / dipenuhi karena posisi tawar yang rendah.

Parah tidaknya inflasi sebenarnya bersifat relatif, karena ukuran berat / ringan itu bergantung pada kekuatan masyarakat atau negara yang mengalami inflasi. Pengaruh positif inflasi terjadi apabila inflasi masih dibawah persentase tingkat bunga kredit yang berlaku bagi negara maju, inflasi seperti ini akan mendorong kegiatan ekonomi dan pembangunan. Hal ini terjadi karena entrepeneur dinegara maju dapat memanfaatkan kenaikan harga untuk berinvestasi, memproduksi, dan menjual barang / jasa.

Inflasi dan deflasi hanya terjadi apabila :

1. kapasitas produksi tinggi

2. pengguanaan faktor - faktor produksi sudah maksimal

3. tingkat pengangguran rendah ( nol ) / full employ ment.

C. KEBIJAKAN MONETER

Kebijakan moneter adalah suatu kebijakan yang diambil oleh pemerintah (Bank Sentral) untuk menambah dan mengurangi jumlah uang yang beredar. Sejak tahun 1945, kebijakan moneter hanya digunakan sebagai kebijakan ekonomi untuk mencapai stabilitaas ekonomi jangka pendek. Adapun kebijakan fiskal digunakan dalam pengendalian ekonomi jangka panjang. Namun pada saat ini kebijakan moneter merupakan kebijakan utama yang dipergunakan untuk pengendalian ekonomi jangka pendek dan jangka panjang. Untuk mempengaruhi jumlah uang yang beredar, pemerintah dapat melakukan kebijakan uang ketat dan kebijakan uang longgar.

1. Tight Money Policy, yaitu kebijakan Bank Sentral untuk mengurangi jumlah uang yang beredar dengan cara :

a. Menaikan suku bunga

b. Menjual surat berharga

c. Menaikan cadangan kas

d. Membatasi pemberian kredit

2. Easy Money Policy, yaitu kebijakan yang dilakukan oleh Bank Sentral untuk menambah jumlah uang yang beredar dengan cara :

a. Menurunkan tungkat suku bunga

b. Membeli surat-surat berharga

c. Menurunkan cadangan kas

d. Memberikan kredit longgar

Jadi cara-cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi inflasi adalah melalui kebijakan uang kertas, kebijakan fiskal, kebijakan produksi, kebijakan perdagangan internasional dan kebijakan harga.

Macam-macam kebijakan moneter yaitu politik diskonto, politik pasar terbuka, kebijakan Cadangan Kas, kebijakan Sanering dan kebijakan Devaluasi Tertra Revolusi.

Senin, 20 Desember 2010

Lagi, introspeksi...

Perkuliahan pertama manajemen keuangan int’l menyisakan banyak pertanyaan sekaligus surprise dari seorang professor yang membawakannya. Saya sudah hafal, pada perkuliahan pertama diisi dengan eksplorasi para dosen tentang sejauh mana pemahaman kita akan mata kuliah tersebut dan hal-hal yang berkaitan dengan itu. Karena mulai membiasakan diri berpikir sedikit holistik (bukan bermaksud menyombongkan diri, hanya terinspirasi dari seorang dosen yang berpikir holistik), terkadang pertanyaan yang mudah-mudah saja kita berpikir keras mencari jawabannya, karena otak bergerak cepat memikirkan ekses-ekses yang mungkin timbul dari apa yang ditanyakan tadi. Padahal banyak menenggelamkan diri dengan membaca membuat kita merasa lebih luas dan lebih “berisi” dari sebelumnya. Tapi ketika pertanyaan mudah saja terlontar, kita sering terpaku.. ternyata jawabannya begitu saja ya. Simpel.
Kembali ke professor tadi, di luar topik mata kuliah, agaknya karena beliau sudah tahu mahasiswanya muslim semua, ia bertanya (mungkin pura-pura bertanya), “Apakah kalau ada seorang Amerika yang butuh bantuan, kita akan membantu?” Hmm.. saya agak malas menjawab, karena soal bantu-membantu tidak bisa ditawar-tawar lagi, sepanjang kita mampu, kenapa tidak? Sebagai misal, ketika kita melihat orang bule (let say, an American) yang sedang bersepeda kemudian jatuh dan butuh pertolongan, apa kita pilih diam saja? Tidak mungkin kan? Sebisa mungkin tentu kita bantu. Lalu kenapa sang professor menanyakan itu? Menurut saya agaknya beliau ingin punya parameter mengenai mahasiswanya (tentu dengan parameter versi beliau) terhadap apa yang nanti akan beliau sampaikan, yaitu hakikat dari manajemen keuangan int’l itu sendiri. Ujung-ujungnya mudah ditebak, “persahabatan” kita dengan dollar (USD) memang masih harus dipertahankan, lebih tepatnya sih dipelihara. Pernah lihat dan pegang uang USD atau belum, itu lain cerita.
Pertanyaan seperti itu ibarat hidangan pembuka sekaligus membuka mata bahwa semangat berIslam dalam segala aspek kehidupan termasuk beraktifitas ekonomi apalagi berskala makro tidak bisa dilepaskan dari ketergantungan kita (lagi lagi) terhadap USD.Sedemikian tingginya ketergantungan dunia dengan USD, membuatnya seperti primadona yang layak jadi rebutan dan hampir tidak ada negara di dunia ini yang tidak pakai USD sebagai devisa. Ngeri... Padahal hanya kertas lho!?
Nah, Indonesia yang nota bene negara berpenduduk muslim terbesar di dunia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Walau pun teriakan-teriakan anti Amerika kerap terdengar dari aktifis-aktifis di penjuru tanah air (walau akhir-akhir ini samar terdengar), tetap saja untuk transaksi ekspor-impor Indonesia pakai si primadona produknya AS itu (di dunia ini hampir tidak ada negara yang tidak melakukan kedua aktifitas itu). Sebagai contoh, negara-negara di jazirah Arab yang berlandaskan syariat Islam, ketika bertransaksi menjual minyaknya juga pakai USD/dollar AS. Terus bagaimana? Di satu sisi ada yang anti, tapi di sisi lain terpaksa harus menjadikan ia primadona. Ya seperti itulah, seberapa pun antinya kita terhadap kebijakan AS (terutama kebijakan luar negeri untuk kawasan timur tengah), kita tetap harus tunduk dalam cengkraman sistem mereka, karena amat sangat kuatnya sistem yang dibangun untuk mengendalikan dunia. Itu realita.
Terima kasih Prof sudah mengetuk hati mengintrospeksi diri saya dan teman-teman. Walhasil, benang merahnya adalah siapa yang bekerja keras dan bekerja cerdas maka dialah pemenangnya (dengan berat hati saya harus mengakui itu).
“Dan Allah tidak mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya.” (QS 13:11)
Maha benar Allah dengan segala firmanNya.

Kamis, 25 November 2010

Cita-cita vs Realita

Amat merepotkannya memiliki anak yang masih balita. Selain hampir semua kebutuhannya selalu masih dilayani, terutama olehku sebagai ibunya -karena sejak ia lahir aku sendirilah yang mengurusnya, maka pasti ia sangat "bunda minded", semua kalau bisa dipenuhi dan dilayani olehku. Belum lagi sifat cari perhatiannya..hhh... kalau tidak banyak persediaan sabar pasti selalu terkalahkan dengan sifat kekanakannya itu. Sepanjang hari akfitifitasnya menuntut perhatian orang-orang terdekatnya. Bila kita lalai memberinya applaus atau kata "duuh, pinternya.." atau "waaah.. hebat yaa..." tanggung sendiri deh konsekuensinya. Pasti dia akan bertingkah lebih heboh dan lebih "menggetarkan" lagi.
Padahal aku masih punya kewajiban-kewajiban yang harus kulakukan. Termasuk mempersiapkan materi untuk bahan penelitianku. Bagaimana bisa dengan tenang dan konsentrasi membaca dan mempersiapkan segala sesuatunya kalau kerap kali "gangguan-gangguan" itu akrab bersamaku. Ternyata tahap-tahap menantang untuk maju ke langkah berikutnya alangkah membutuhkan energi dan perhatian yang besar. Sedang menjaga fokus tidaklah mudah. Walau demikian aku tetap berusaha menjaga semangatku untuk cita-cita yang lebih besar. Amiin. Insya Allah.

Rabu, 13 Oktober 2010

Visi ke Surga

Sudah selayaknya seseorang itu hidup mempunyai visi. Karena visi yang jelas akan menuntun seseorang untuk berusaha mendapatkan sesuatu yang menjadi tujuannya. Selain itu juga akan menjadikan seseorang lebih fokus terhadap hasil akhir tanpa mudah goyah ketika mendapat gangguan atau hambatan. Visi adalah tujuan jangka panjang yang bersifat umum akan dicapai melalui penjuangan yang panjang. Ia berbeda dengan misi, karena misi lebih bersifat khusus dan kewujudannya hanya untuk mendukung visi.

Seseorang yang memiliki visi selalu melihat semua kegiatan sepanjang hidupnya sama ada sudah sesuai pada jalan yang akan membawa dirinya kepada visi atau belum, sekiranya belum maka ia akan segera memutar arah menempuh jalan yang mampu membawanya pada visi yang sudah ditargetkan. Karena hidup ini diibaratkan sebuah perjalanan, sedangkan di dunia adalah tempat persinggahan untuk mengumpulkan bekal untuk dibawa ke kehidupan yang mendatang.

Ketika hidup tanpa visi maka akan memungkinkan seseorang lalai tarhadap tujuan hidup itu sendiri ataupun lupa terhadap tujuan utama manusia diciptakan yakni untuk mengabdi kepada Allah SWT. “dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada Ku”(QS 51,56).

Sebagai seorang muslim kita meyakini bahwa kehidupan ini mempunyai tiga fase. Pertama, adalah fase ketika manusia berada di alam rahim. Pada fase ini manusia masih tergantung kepada individu lain yakni ibu. Meskipun demikian sudah sempurna sebagai satu kehidupan. Kedua, kehidupan dunia yang diawali dengan kelahiran manusia sampai kematian. Pada fase ini manusia mampu berdiri sendiri dan mempunyai tanggung jawab terhadap dirinya. Ketiga, fase kehidupan setelah kematian. Pada fase ini adalah tempat memperoleh hasil dari usaha manusia di fase kedua.

Pada fase pertama waktunya sangat terbatas kurang lebih hanya sembilan bulan atau pada beberapa kasus ada yang lebih cepat dari itu. Kemudian fase kedua juga memiliki waktu yang terbatas. Tidak bisa ditentukan secara pasti, namun secara rata-rata adalah antara enam puluh sampai tujuh puluh tahun umur manusia. Tentu saja ada ada yang lebih dari itu namun sangat sedikit. Dan yang kurang dari umur rata-rata juga sangat banyak. Kalau diibaratkan seperti buah kelapa. Lalu jatuhnya buah kelapa itu sebagai kematian, maka yang memiliki kemungkinan jatuh itu tidak semestinya kelapa yang sudah tua dan berwarna coklat. Tetapi kelapa yang muda atau masih bunga juga sangat berkemungkinan gugur.

Sedangkan fase kehidupan setelah kematian tidak terbatas waktunya. Dan inilah sebenarnya tempat kehidupan yang hakiki. Cuma terkadang manusia mudah melalaikan fase ini. Padahal pada fase ini disediakan hanya dua tempat saja, surga atau neraka. Tidak ada pilihan lain. Dan untuk menetapkan tempat yang mana manusia akan menuju, semuanya tergantung pada visi yang telah dibuat ketika di dunia dan sejauh mana usaha yang dilakukan untuk mencapainya.

(dari eramuslim)