Rabu, 18 Mei 2011
Curhat Tentang TKI (bag 1)
Memang sudah agak lama beritanya, sekitar sepekan dua pekan yang lalu. Alhamdulillaah, terpikir lagi olehku sekarang.
Momennya adalah ketika ratusan TKI pulang dari timur tengah dengan keadaan mereka yang sangat mengenaskan karena banyak di antara mereka pulang dengan perut membesar, ada pula yang sambil menuntun anak-anak kecil yang berparas kearab-araban, bahkan ada yang melahirkan di perjalanan! Astaghfirullah.. Miris benar nasib bangsaku. Siapa pun yang melihat peristiwa itu yang tak tersentuh rasa kemanusiaannya, pasti hatinya lebih keras dari batu.
Aku tak ingin dalam posisi menyalahkan pemerintah atas semua drama memilukan itu. Tak juga mereka, para peremuan yang dengan segenap "keberanian" dan pertimbangan-pertimbangan yang pada akhirnya kita juga bisa menerima apa alasan mereka sehingga akhirnya memutuskan berangkat.
Tapi ketika solusi yang dipilih juga paralel dengan segala resiko yang harus ditanggung (disiksa, diperkosa bahkan dibunuh) melebihi nilai dari solusi itu sendiri, tak sepatutnya kita menyalahkan apalagi saling menuding. Karena tak ada supply kalau tak ada demand. Pertanyaannya apakah solusi sekaligus resiko itu harus ditanggung secara individu para perempuan itu?
Adalah klasik sekaligus realita alasan keberangkatan motifnya ekonomi. Namun jangan-jangan yang membuat mereka "mengeksekusi" dirinya ke sana lantaran kontribusi kita juga tanpa kita sadari? Terbukti mereka bukan orang-orang malas bekerja. Mereka bisa berkarya. Hanya kita yang tak memberinya "kesempatan". Kesempatan memakai apa yang mereka buat. Mengkonsumsi apa yang mereka produksi. Pola konsumsi kita secara kolektif memarginalkan posisi mereka dari "pasar" yang memang sudah dikuasai dengan brand-brand yang sudah kuat.
Minggu, 24 April 2011
Nasionalisme yang "Dekat"
Produk dari dari luar khususnya Cina masuk dengan derasnya ke pasar Indonesia. Mulai dari mainan, pakaian, elektronik sampai alat-alat rumah tangga.. Semuanya komplit, plit, plit dan tinggal pilih.. Ancaman bukan lagi mengintai, tapi sudah terjadi dan masih berlangsung. Banyak pelaku usaha yang memilih jadi pedagang dari pada ngga kuat "bertarung" harga dengan produk-produk sana karena atmosfir persaingan sudah ngga imbang lagi. Toh, keuntungan yang didapat ngga jauh beda dibanding memproduksi sendiri, dengan resiko yang kecil pula. Yang beda, pekerja-pekerjanya sekarang jadi hilang sumber penghidupan, daya beli pun jadi turun, bahkan kalau efeknya sudah berat pendidikan dan kualitas gizi anak-anak pekerja itu makin terancam. Nantinya, sepuluh dua puluh tahun mendatang bakal melimpah SDM-SDM yang berkualitas rendah. Bisa jadi mereka malah berhijrah jadi TKI-TKI ke Cina. Nah!? Berlebihankah?? Tidak juga, cuma berpikir realistis aja. Repotnya, pelaku usaha yang banting setir jadi reseller bukan satu dua, tapi banyak.. dihitung sendiri deh efek dominonya seperti apa. Kenapa aku bilang -seperti apa- karena bisa timbul masalah sosial, dst, dst yang sulit dikuantitatifkan.
Tunggu punya tunggu Pemerintah kayaknya makin sulit dijadikan sandaran mencari solusi akan hal ini. Kalau nunggu action benerannya mah bisa beberapa tahun lagi (?).. Tapi sebenarnya masyarakat seperti kita bisa berperan aktif ikut memberdayakan ekonomi saudara-saudara kita sendiri supaya mereka tetap punya jam kerja sehingga tetap punya daya beli, asalkan kita tetap care dan komit, caranya ngga sulit kok yaitu kita jaga loyalitas kita memakai dan mengkonsumsi produk-produk yang mereka buat. Kalau harganya lebih mahal ya.. memang iya, karena mesin-mesin produksinya aja kebanyakan masih import (beda dgn Cina yang mampu bikin mesin sendiri), belum lagi kalau selama proses produksi tingkat efisiensinya masih rendah. Produsen cq pelaku usaha harus jeli melihat ini sebagai bahan pembelajaran supaya produknya bisa lebih bersaing. Jadi intinya yang memproteksi ya kita-kita juga.. masyarakat sendiri. Mungkin ngga ya seperti ini?? Ya kenapa ngga?? Rakyat India aja bisa cinta mati sama produk-produk buatannya sendiri, sama lagu-lagunya, sama film-filmnya sampai sama produk otomotifnya. Walau pun berisik, ya dipake juga, dengan bangga lagi. Ngga jauh beda dengan ekspat-ekspat dari Jepang yang keluar negeri masih mau repot-repot bawa sabut cuci piring buatan para manula di sana. Alasannya kalau bukan dari mereka sendiri yang pada beli lalu siapa dong?? Wow.. sampai segitunya ya nasionalisme mereka... Demi saudara sebangsa gitu, lho... Coba yang seperti itu bisa menular ke sini, di Indonesia ini.. Ketika ini menjadi kesadaran dan aksi kolektif, maka impactnya akan lebih terasa. Berawal dari diri sendiri dan memulainya dari sekarang kelak akan lebih banyak lagi saudara-saudara kita yang tertolong nasibnya, terpelihara ketahanan ekonomi keluarganya dan terjamin pendidikan serta kesehatan anak-anaknya. Pada akhirnya, masa depan bangsa inilah yang terselamatkan dan terproteksi. Subhanallaah... membayangkan suatu saat terbukti gemah ripah loh jinawi-nya negeri ini. Ini bukan sekedar impian dan isapan jempol belaka. So, kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Saatnya menyudahi wacana dan retorika. Bismillaah... Semoga selalu terjaga niat dan langkah ini.
Rabu, 20 April 2011
Cobalah Berpikir Positif
Aku baca status fb seseorang yang berisi dialog :
Manajer :Ustadz bgm cara kita agar para cleaning service mall ini selalu bekerja dg senang hati?
Ustadz :Agar anda tahu saja dulunya mereka adalah orang2 yg malas di rumahnya, nah sekarang silakan tanya pada mereka apakah ada yg punya cita2 menjadi cleaning service?Semua ini adalah persoalan UANG karena itu mereka terpaksa melakukannya.
Duh.. aku ngga tahan ingin komen.. tapi kurasa lebih bermanfaat kalau kuulas di sini.
Manajer itu sudah benar memilih Ustadz sebagai tempat untuk bertanya, dengan harapan sang ustadz bisa memberinya masukan untuk memotivasi karyawan dalam menjalankan tugasnya. Tapi sayangnya, yang ditanya bukannya memberi masukan tapi malah menjudge profesi cleaning service sebagai ladang pekerjaan yang tidak layak karena orang-orang yang mau berprofesi seperti itu dilatarbelakangi keterpaksaan lantaran kebutuhan perut semata-mata. Pliz, deh.. jangan ada lagi yang mengganggap rendah profesi seseorang, asalkan niatnya mencari nafkah halal dan tidak memakan hak orang lain, itu lebih mulia dari pada pengangguran intelektual atau bila dibanding intelek-intelek lain yang kerjanya ‘minterin’ orang. Yang berdasi, yang bermobil dan yang berwah-wah lainnya memang lebih memukau tapi belum tentu memberi manfaat bagi orang-orang sekelilingnya. Bisa jadi hanya perutnya sendiri saja yang dipikirkan. Cobalah berpikir positif saja sedikit, apa jadinya mall dan gedung-gedung megah kalau tanpa disupport para cleaning service? Pasti kotor, kusam dan bau. Kalau demikian pastilah para cleaning service itu yang lebih banyak memberi manfaat buat seisi mall dan gedung itu.Dan, soal uang yang dicari, that’s right.. everybody having a job for money, so what?? Belum tentu yang jumlahnya sedikit jadi berkurang berkahnya dan belum tentu yang banyak uangnya jadi berlebih berkahnya. Tak jarang profesi-profesi yang dianggap rendahan itu melahirkan sosok-sosok yang hebat dalam berbisnis dan banyak menolong nasib orang di bawahnya. Pak Bob Sadino dan Pak Eka Tjipta adalah contohnya. And once more, di perusahaan or organisasi mana pun, sehebat apa pun top managemen, tak kan sanggup bekerja sendiri, ia tetap saja butuh tim untuk mensukseskan goal-goalnya. Bukan tidak mungkin para pekerja selevel cleaning service termasuk di dalamnya.
Aku sih berharap bahwa dialog itu imaginer saja. Namun alangkah menyedihkannya bila itu dialog real, dgn seorang ustadz yang tampaknya emosional….Hhhhh….Just hoping, semoga beliau menyadari kekeliruannya.
Untuk teman2 or sodara2 yang berprofesi spt di atas yakinlah seyakin-yakinnya bahwa "Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan sebesar zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan keburukan sebesar zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya." QS Al Zalzalah:7-8. Jangan biarkan orang lain merendahkan kalian sampai kalian yang merendahkan diri kalian sendiri. Keep smile and having fun with your job!!
Sabtu, 16 April 2011
I Miss You Both
Beberapa minggu yang lalu aku mengikuti training yang juga diikuti peserta dari penjuru tanah air. Yang hadir ratusan orang. Aku datang sendiri saja, ngga ada teman. Pede saja. Karena aku hadir di sana niatnya bukan cari teman, tapi cari ilmu. Alhamdulillah, Allah swt memberikan aku lebih dari itu.
Aku diset sekamar dengan dua peserta lainnya. Namanya Ibu Romo dan Ibu Mei. Ibu Romo berasal dari Medan, sementara Ibu Mei dari Pekanbaru. Beliau berdua lebih senior dari aku dilihat dari sisi usia. Rasanya agak kikuk saja tiba-tiba harus sekamar dengan orang yang baru pertama kali ketemu. Alhamdulillah mereka welcome dan ternyata asyik-asyik.
Materi demi materi disampaikan... Sampai tiba materi menjelang senja ditutup dengan muhasabah. Mungkin senja itu adalah senja yang tersyahdu dan terindah sepanjang hidupku dan karena rahmat dari Allah swt sajalah hati kami semua berpadu. Sulit untuk menuliskan apa yang kurasa dan kami rasa saat itu. Indah nian. Serasa Allah swt tak berjarak. Dekat.. dan amat sangat dekat. Saat kutulis ini sekarang pun menggenang kembali air mata membayangkan keindahan momen itu. Ada kerinduan yang sangat untuk mengulangnya kembali. Ajaibnya setelah momen itu aku merasa sudah berkawan lama saja dengan Ibu Romo dan Ibu Mei. Padahal baru hari itu aku bertemu beliau berdua. Tak pernah ada komunikasi sama sekali sebelumnya. Mungkin inilah yang namanya the real brotherhood. Rasa ini mahal harganya karena tak bisa datang tiba-tiba tanpa kita menyengajakannya.
Dan rasa seperti itu menghidupkan dan lebih mewarnai hari-hariku sesudahnya. Benar bahwa tiap hari kita melalui pagi yang sama, tapi memaknai sebuah pagi di hari yang baru butuh mindset yang beda dari yang biasa, butuh energi yang beda dari yang biasa, butuh kecintaan yang beda dari biasa. Ya.. cinta. Cinta meringankan segala yang berat. Memudahkan segala yang sulit. Menjernihkan segala yang keruh. Melapangkan segala yang sempit. Menerangkan segala yang gelap. Menenangkan segala yang merisaukan. Sekaligus menghadirkan keindahan dan berjuta senyuman. Dengan cinta semestinya bisa selesai semua persoalan kehidupan. Cinta yang setulus hati tak akan datang dengan sendirinya tapi kehadirannya harus diupayakan sungguh-sungguh oleh seorang hamba kepada Dzat yang melimpahinya dengan kecintaan karena cinta yang hakiki hanya bisa lahir semata-mata karena rahmatNya. Dan menjadi beruntunglah orang-orang yang di hatinya dipenuhi rasa cinta.. ia ibarat berlian yang kilaunya mampu menjadi cahaya bagi sekelilingnya...
*For Ibu Romo and Ibu Mei, with my full of love from the deepest of my heart... I miss u both.. See u soon, Insya Allah...
Rabu, 13 April 2011
Enjoying my time
Sebenarnya analisis portofolio saham mengasyikkan juga.. Orang mau beli atau jual saham ngga semata-mata menganalisis aspek fundamental dan teknikalnya saja, tapi pake intuisi juga plus analisis pasar, dengan gerak cepat tentu saja. Kalau basicnya analisis fundamental dan teknikal saja, asli bakal kelamaan untuk segera ambil keputusan untuk jual atau beli saham. Apa lagi pasar di Indonesia ini konon masih rentan rumor. Katanya kalau zaman Orba dulu, Presiden batuk saja "uhuk..uhuk.." pasar langsung merespon dan bersiap melangkah ke plan A, B atau C terhadap kepemilikan saham-sahamnya itu. Miris. Itu baru batuknya... bagaimana lebih berat dari itu? Maka dari itu, indirectly, pasar harus punya translator yang handal buat menerjemahkan gejala individu penguasa menjadi "realitas pasar".
Jumat, 08 April 2011
Tsunami Moral
Mungkin ini bagian dari skenario Allah swt untuk mengungkap kebenaran walau kenyataannya sangat-sangat menyakitkan. Hikmah terbesar adalah janganlah sekali-sekali berlebihan mengagumi seseorang hanya dari kedudukan dan predikat seseorang. Celah kesalahan tetap terbuka lebar kendati pemahaman akan kebaikan orang tersebut relatif lebih tinggi dari rata-rata orang lain. Bahkan cenderung orang yang lebih paham justru berpotensi lebih besar melakukan pelanggaran apa yang dipahaminya sendiri. Bukankah yang seperti itu bertebaran di sekeliling kita???
Astaghfirullahaladziim.. Sulitnya memelihara kebaikan di dalam diri sendiri apatah lagi untuk menyebarluaskannya..???
Selasa, 05 April 2011
Inginkah Terbius CintaNya???
Selasa, 22 Februari 2011
Munajat
Ya Allah.. dalam sholatku aku berusaha menghadirkan hati berbicara denganMu
Ya Allah.. dalam hati dengan sepenuh harap aku memohon berilah petunjuk bagiku
Ya Allah.. apalah arti apa yang membuat tertuju padaku jikalau membuat Engkau berpaling dariku
Ya Allah.. tiada mengapa walau dunia dan seisinya menjauhiku jikalau itu mendatangkan keridhoanMu
Ya Rahman.. waktuMu adalah titipan buatku
Ya Rahiim.. umurku adalah amanah terpentingku dariMu
Ya Rahman.. rapuhnya aku adalah karena kealpaanku tidak mendekat padaMu
Ya Rahiim.. jikalau diriku tegar, tiada lain karena curahan kasihMu
Ya Allah.. Dzat Yang Maha Mengetahui segala yang nampak dan tersembunyi
Engkau Maha Tahu apa yang terlahir dan tersimpan di hati ini
Bila mana hati ini terkotori ambisi-ambisi dunia, izinkanlah kubasuh dengan lafazh ayat-ayat suciMu
Bila hati ini khianat terhadap amanah-amanah dariMu, izinkanlah kubersujud memohon ampunanMu
Biarlah air mata ini menjadi saksi atas semua sesalku
Izinkanlah Ya Allah kuisi hari-hariku dengan kebaikan-kebaikan
Walau terlihat sebagai butiran debu di mata insan
Walau di hari akhir nanti ku pasti akan tetap menyesal atas segala kesia-siaan
Astaghfirullahal'adziim...
Astaghfirullahal'adziim...
Astaghfirullahal'adziim...
Tiadalah orang yang bisa memaknai apa yang kutulis di atas kecuali dia manusia suci dari segala salah dan dosa.
Tiadalah orang yang bisa mengerti apa yang kuungkap di atas kecuali dia terpelihara dari kotor dan debu dunia.
Tiadalah orang yang bisa memahami apa yang kusampaikan di atas kecuali ia memahami bahwa Allah swt sendirilah yang mengilhamkan jalan yang baik dan jalan buruk, karenanya Ia mengamanahkan hak prerogatifnya kepada manusia.
Alangkah naifnya jika menjatuhkan jugde pada seseorang bila didasari syak wa sangka dan penilaian sempit semata.
Wallahu'alam
Senin, 21 Februari 2011
Disiplin = Pengendalian Diri = Menunda Kesenangan
The Marshmellow Test diciptakan oleh Walter Mischel, seorang profesor dari Stanford University di tahun 1960. Tes ini diberikan kepada sejumlah anak berusia 4 tahun. Setiap anak akan diminta duduk di sebuah ruangan terpisah dari orangtuanya. Hanya ada 1 meja, 1 kursi dan 1 buah piring dimana akan diletakkan sebuah marshmellow (sejenis permen jelly manis) di atas piring tersebut. Ia akan diminta untuk menunggu 15 menit untuk tidak memakan marshmellow tersebut. Jika ia mau menunggu, 15 menit kemudian, pemberi tes akan masuk dan memberinya 1 buah marshmellow tambahan dan ia boleh memakan 2 marshmellow sekaligus. Tetapi jika anak tersebut dapat menunggu, ia boleh membunyikan bel dan ia boleh makan hanya 1 marshmellow saja.
Mayoritas anak akan menunggu sampai kira-kira 3 menit sebelum memakan marshmellow tersebut. Sebagian lagi langsung memakannya di detik pertama. Dan 30% dari anak-anak tersebut berhasil menunggu 15 menit sampai pemberi tes kembali dan memberi mereka marshmellow kedua untuk dimakan.
Memang kelihatannya sepele, namun tes ini tidak berakhir di sini. Professor Walter Mischel mengikuti perkembangan anak-anak ini sampai 30 tahun kemudian. Hasil tes tersebut membuktikan bahwa anak-anak yang berhasil mengendalikan keinginan mereka dan menunda kesenangan dari yang segera memakan marshmellow tersebut memiliki prestasi yang lebih baik di sekolah dan memiliki relasi yang lebih baik dengan masyarakat. Seluruh anak yang berhasil menunggu 15 menit memiliki skor SAT (Scholastic Aptitude Test) 210 point lebih tinggi dari anak-anak lainnya. Sedangkan anak-anak yang langsung memakan marshmellow tersebut memiliki lebih sedikit teman, banyak mengalami frustasi sosial dan akademis dan memiliki prestasi yang buruk di sekolah.
Nah, apakah artinya jika putra-putri kita termasuk tipe yang tidak dapat mengendalikan keinginan, mereka pasti gagal dalam hidupnya? Tentunya tidak. Tugas kitalah sebagai orang tua untuk melihat dimana kelebihan dan kekurangan mereka dan melatih terus kemampuan mereka untuk mengendalikan diri. Disiplin adalah pengendalian diri yang direalisasikam dalam bentuk menunda kesenangan. Dan yang terpenting dalam penerapan disiplin adalah konsistensi. Tentunya bentuk disiplin harus sesuai dengan kesepakatan dan perkembangan anak.
Pengalaman menunda kesenangan yang berakibat kepada pencapaian keberhasilan yang lebih besar akan sangat membekas pada anak-anak.
Yang perlu diingat ada hal-hal yang boleh diiming-imingi, dan ada hal-hal yang tidak boleh diberi suap atau hadiah. Suap atau iming-iming atau lebih halusnya "Reward" hanya boleh diberikan untuk pencapaian prestasi dimana ada perjuangan anak dalam mencapainya. Misalnya anak juara olimpiade sains dan selalu masuk 3 besar di sekolahnya. Tetapi untuk belajar, sholat (pada usia tertentu), membereskan kamar, mandi dan bangun tepat waktu, mengucapkan salam pada tamu dan saudara; untuk semua hal yang memang sudah menjadi kewajiban anak, hindarilah pemberian reward dalam bentuk materi atau janji-janji. Reward yang tepat adalah pujian atau pelukan yang tulus dari hati.
Mari kita bersama-sama menelaah dan mengevaluasi kembali pendidikan seperti apakah yang selama ini telah kita terapkan pada putra-putri kita. Kita harus yakin dapat terus meningkatkan kualitas didikan kita agar karakter anak-anak dapat semakin berkembang. Insya Allah.
sumber : dari tulisan seorang praktisi pendidikan
Rabu, 13 Oktober 2010
Visi ke Surga
Sudah selayaknya seseorang itu hidup mempunyai visi. Karena visi yang jelas akan menuntun seseorang untuk berusaha mendapatkan sesuatu yang menjadi tujuannya. Selain itu juga akan menjadikan seseorang lebih fokus terhadap hasil akhir tanpa mudah goyah ketika mendapat gangguan atau hambatan. Visi adalah tujuan jangka panjang yang bersifat umum akan dicapai melalui penjuangan yang panjang. Ia berbeda dengan misi, karena misi lebih bersifat khusus dan kewujudannya hanya untuk mendukung visi.
Seseorang yang memiliki visi selalu melihat semua kegiatan sepanjang hidupnya sama ada sudah sesuai pada jalan yang akan membawa dirinya kepada visi atau belum, sekiranya belum maka ia akan segera memutar arah menempuh jalan yang mampu membawanya pada visi yang sudah ditargetkan. Karena hidup ini diibaratkan sebuah perjalanan, sedangkan di dunia adalah tempat persinggahan untuk mengumpulkan bekal untuk dibawa ke kehidupan yang mendatang.
Ketika hidup tanpa visi maka akan memungkinkan seseorang lalai tarhadap tujuan hidup itu sendiri ataupun lupa terhadap tujuan utama manusia diciptakan yakni untuk mengabdi kepada Allah SWT. “dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada Ku”(QS 51,56).
Sebagai seorang muslim kita meyakini bahwa kehidupan ini mempunyai tiga fase. Pertama, adalah fase ketika manusia berada di alam rahim. Pada fase ini manusia masih tergantung kepada individu lain yakni ibu. Meskipun demikian sudah sempurna sebagai satu kehidupan. Kedua, kehidupan dunia yang diawali dengan kelahiran manusia sampai kematian. Pada fase ini manusia mampu berdiri sendiri dan mempunyai tanggung jawab terhadap dirinya. Ketiga, fase kehidupan setelah kematian. Pada fase ini adalah tempat memperoleh hasil dari usaha manusia di fase kedua.
Pada fase pertama waktunya sangat terbatas kurang lebih hanya sembilan bulan atau pada beberapa kasus ada yang lebih cepat dari itu. Kemudian fase kedua juga memiliki waktu yang terbatas. Tidak bisa ditentukan secara pasti, namun secara rata-rata adalah antara enam puluh sampai tujuh puluh tahun umur manusia. Tentu saja ada ada yang lebih dari itu namun sangat sedikit. Dan yang kurang dari umur rata-rata juga sangat banyak. Kalau diibaratkan seperti buah kelapa. Lalu jatuhnya buah kelapa itu sebagai kematian, maka yang memiliki kemungkinan jatuh itu tidak semestinya kelapa yang sudah tua dan berwarna coklat. Tetapi kelapa yang muda atau masih bunga juga sangat berkemungkinan gugur.
Sedangkan fase kehidupan setelah kematian tidak terbatas waktunya. Dan inilah sebenarnya tempat kehidupan yang hakiki. Cuma terkadang manusia mudah melalaikan fase ini. Padahal pada fase ini disediakan hanya dua tempat saja, surga atau neraka. Tidak ada pilihan lain. Dan untuk menetapkan tempat yang mana manusia akan menuju, semuanya tergantung pada visi yang telah dibuat ketika di dunia dan sejauh mana usaha yang dilakukan untuk mencapainya.
(dari eramuslim)
Selasa, 01 Juni 2010
Asa
Senin, 12 April 2010
Ima, bidadari kecilku..
Rabu, 07 April 2010
Baca lagi.. baca lagi...
Minggu, 04 April 2010
My Sharing
Minggu, 28 Maret 2010
My Sharing
Dengan cekatan jemari kecilnya mengerak-gerakkan pensil, menggambar suatu yang abstrak , garis dan bulatan menjadi satu. Mimiknya serius, seserius usahanya menuangkan imajinasinya dalam bentuk gambar . Cuma dia yang tahu gambar apa yang sedang dibuatnya.
Hari lain bisa jadi ada kata-kata “aneh bin ajaib” tiba-tiba keluar dari bibir mungilnya.. kata-kata yang mungkin bisa bikin kita terhenyak atau bahkan tertawa geli mendengarnya .
Atau tingkah lucunya meniru perilaku apapun orang-orang di sekelilingnya, cara bicaranya.. gerak-geriknya.. kebiasaan-kebiasaannya.. Semua dijiplak sempurna. Yang seperti ini orang-orang sering mengomentarinya “sok tua”.
Padahal anak adalah mesin peniru tercanggih di dunia. Saat masih dalam kandungan sang bunda ia sudah berupaya keras mengadaptasi diri menggemari apa yang menjadi kebiasaan bundanya. Ia belajar menyukai dan membenci sesuatu di lingkungannya lewat reaksi-reaksi psikis sang bunda. Ia, sang peniru ulung ini tak kan henti mengeksplorasi semua yang ada di sekelilingnya. Apapun diamati, dicermati.. Jadi jangan merasa heran kalo ada batita atau balita yang betah nonton sinetron, misalnya. Karena ia memang belajar menyukai seperti orang-orang sekelilingnya menyukai.
Masa optimal bagi anak menyerap berbagai informasi adalah pada masa golden age. Pada masa ini (ada yang mengatakan 1-4 tahun) anak memiliki konsentrasi 100% dalam ingatannya. Karenanya ini adalah masa-masa penting yang sangat berpengaruh terhadap pembentukan konsep diri dan karakter, kemampuannya berkomunikasi, bersosialisasi , mengendalikan emosi, dst, dst, ditentukan di usia-usia ini. Jadi jangan juga heran kalau ada anak yang masih SD, tapi perilaku dan pola pikirnya melebihi anak seusianya, lebih dewasa. Atau justru ada anak usia SMA tapi perilaku dan pola pikirnyanya bak anak lima tahunan, managemen dirinya pun masih acak-acakan.
Karakter yang bertolak belakang diatas ngga mungkin terjadi secara instan. Ada proses-proses yang dilaluinya. Orang-orang disekelilingnyalah yang berperan penting membentuknya. Yang terdekat adalah orangtua, ayah dan bunda, lebih dominan sih sang bunda. . karena ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya. Ibu adalah pendidik pertama sang anak. Ibulah (bersama ayah) yang berhak sekaligus berkewajiban menunaikan tugas mulia ini. Seorang pendidik haruslah rela dididik, dalam arti yang seluas-luasnya, agar ter-up grade- dan terpelihara terus ilmu yang dimilikinya.Tidak ada yang lebih berarti dan membahagiakan selain bisa mengawal , mencurahkan perhatian dan mensuplai kebutuhan-kebutuhan buah hati kita , secara jasadiyah, fikriyah dan ruhiyah. Kejutan-kejutan dan keajaiban-keajaiban dari sang buah hati akan menjadi “hadiah indah” dari keikhlasan kita.
Sebagai orang tua seringkali terjadi disorientasi pada diri kita. Padahal semestinya anak bisa jadi pilihan investasi jangka panjang yang pasti akan selalu mendatangkan keuntungan (dunia akhirat) kalo kita serius mengelola sesuai dengan tuntunanNya. Lebih besar dari itu Allah SWT akan meminta pertanggungjawaban atas amanah-amanah kita, yakni anak-anak kita, kelak.
Wallahu’alam.

